Bakar Babi: Dari Ritual Budaya ke Simbol Politik Suku Moskona dalam Pemilihan Legislatif di Teluk Bintuni, Papua Barat
DOI:
https://doi.org/10.33506/jn.v11i2.5001Kata Kunci:
Ritual Bakar Babi, Simbol Politik, Kepala Suku dan LegislatifAbstrak
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan suatu fenomena politik dimasyarakat adat Moskona Teluk Bintuni, dengan meliputi tujuan sebagai fokus analisis. Pertama, Ritual Bakar Babi dalam Budaya Suku Moskona. Kedua, Bakar Babi Sebagai Simbol Politik dalam Solidaritas Suku Moskona diRanah Politik, dan Ketiga, Kapitalisasi Modal Sosial dalam Kemenangan Kepala Suku dipemilihan Legislatif di Teluk Bintuni 2019. Penelitian ini menulis menggunakan teori modal sosial untuk menganalisis, menggambarkan dan mengarahkan penelitian ini hingga menemukan makna kebenaran tentang ritual bakar babi dan hubungan dalam arena pemilihan legislatif. Sedangkan pendekatan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif, dan pengambilan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan studi pustaka yang mendalam dan relevan. Dari ketiga tujuan penelitian tersebut, menemukan bahwa ritual bakar babi adalah bagian daripada budaya dan mekanisme kehidupan dalam kehidupan sosial suku Moskona, dan hingga saat ini masih terus dilestarikan. Lebih mendalam lagi bahwa ritual bakar babi sudah menjadi satu simbol politik yang dikonstruksi sebagai ritual budaya kemenangan dan menjaga solidaritas sosial yang tidak lain adalah satu simbol kekuatan politik oleh elite yang menang dalam konteks politik. Kepercayaan masyarakat suku Moskona bahwa kepala suku adalah sumber kebenaran dan kebaikan, oleh sebab itu proses untuk mengkapitalisasi modal sosial sangat efektif dalam kemenangan dalam arena politik.
Referensi
Bourdieu, Pirre. (2004). Social Capital. London dan New York: Routledge Taylor & Francis Goup
_______. (2020). Bahasa dan Kekuasaan Simbolok. Yogyakarta: IRCiSoD.
Field, John, (2018). Modal Sosial. (Terjemahan Nurhadi). Bantul: KREASI WACANA.
Fukuyama, F.(2010). Trust, Kebajikan Sosial dan PenciptaanKemakmuran, (Terjemahan Ruslani). Cetakan Kedua. Yogyakarta: Penerbit Qalam
Fukuyama, F.(2018). Identity: Contemporary identity politics and the struggle for recognition. Profile books.
Fukuyaman, F. (2002). Trust, Kebijakan Sosial dan Penciptaan Kemakmuran. Yogyakarta: Qalam..
Halim, Abd. (2014). Politik Lokal: Pola, Aktor dan Alur Dramatikalnya. Yogyakarta: LP2B..
Haryanto, H. Power in the Tradition of Kain Timur Exchange: A Study of Using Tradition to Get Support in the Local Election in South Sorong 2010. PCD Journal, 5(1), 113-145.
Haryanto. Elit Politik Lokal dalam Perubahan Sistem Politik. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Volume 13, Nomor 2, November 2009 (131-148) ISSN 1410-4946
Hasbullah, (2004). Social Capital: Menuju Keunggulan Budaya Manusia Indonesia. Jakarta: MR-United Press.Arnie, Seberapa Pentingkah Norma dalam Kehidupan Manusia, dalam http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20110306025222AAsjGyD
Jones, T. (2015). Kebudayaan dan kekuasaan di Indonesia: Kebijakan budaya selama abad ke 20 hingga Era Reformasi. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Kahneman, D., & Klein, G. (2009). Conditions for intuitive expertise: A failure to disagree. American Psychologist, 64(6), 515–526
Matthew B. Miles, A. Michael Huberman, J. S. (2014). Qualitative Data Analysis.
Ningtias, Eka. Piere Bourdieu, Language and Power. Polity Press, Malden. 2007. (artikel terjemahan).
Putnam, RD. (1993). The Prosperous Community: social Capital and Public Life, dalam The American Prospect, Vol.13
Scott, J. (2012). Apa itu analisis jaringan sosial? (hlm. 114). Bloomsbury Academic.
Wahid, B. dkk. (2021). Kapitalisasi Modal dan Kepentingan Elit Politik (Studi Arena Perebutan Pemimpin Lokal Antara Anak Adat Moi di Kabupaten Sorong 2017). Jurnal Noken: Ilmu-Ilmu Sosial, 6(2), 104-116.
Weinberg, A. (2012). Should the job of national politician carry a government health warning?—The impact of psychological strain on politicians. The Psychology of Politicians, 123–142
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 Bustamin Wahid, Uswatul Mardliyah, Siti Nurul Nikmatul Ula, Nanik Purwanti, Putri Bulkis Subhan

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.








