Konsep Diri Pada Remaja Otaku Anime
DOI:
https://doi.org/10.33506/jn.v10i2.3805Kata Kunci:
Konsep Diri, Otaku Anime, RemajaAbstrak
Otaku merupakan kaum muda, baik pria maupun wanita, biasanya berusia antara 15 hingga 29 tahun, dan ketika mereka mencapai usia dewasa, mereka tetap antusias terhadap film kartun yang sebagian besar ditujukan untuk anak-anak. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis faktor-faktor konsep diri pada remaja otaku anime. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Teknik pengambilan data menggunakan metode observasi dan wawancara kepada remaja otaku anime. Sedangkan metode analisis data menggunakan koding dan uji kredibilitas menggunakan triangulasi rekan sejawat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Informan I menjelaskan bagaimana anggota komunitas anime memberikan pengaruh positif yang signifikan, dengan menciptakan rasa keterhubungan dan solidaritas melalui rekomendasi serta dukungan di tengah perbedaan minat. Sementara itu, Informan II menyoroti peran komunitas online, seperti di Facebook dan Discord, dalam memperkuat identitas diri sebagai penggemar anime. Informan III menekankan peran aktifnya sebagai penggemar anime yang tidak hanya menikmati hiburan tetapi juga memahami budaya Jepang. Ia berusaha mengubah stereotip negatif terhadap penggemar anime melalui partisipasinya dalam komunitas yang positif. Demikian pula, Informan I lebih berfokus pada dukungan sosial dan penemuan diri, Informan II pada pencarian jati diri dan keberanian, sementara Informan III pada pemahaman budaya dan peran aktif dalam komunitas.
Referensi
Afiuddin, M. C. (2019). Fenomena Gaya Hidup Remaja Wibu Pada Budaya Populer Jepang Melalui Anime Dan Fashion (Studi Di Daerah Daan Mogot Cengkareng Jakarta Barat). Ilmu Sosial Dan Politik, 5(2), 40–51.
Al-Farouqi, A. (2020). The Law of Anime: Otaku, Copyright, Fair Use, and It’s Infringements in Indonesia. JIPRO : Journal of Intellectual Property, 3(1), 42–60. https://doi.org/10.20885/jipro.vol3.iss1.art3
Assidiq, W. F. R. (2023). Analisis Peran Media Sosial Dalam Membentuk Identitas Nasional Generasi Milenial di Indonesia. Jurnal Sosial Teknologi, 3(9), 772–775. https://doi.org/10.59188/jurnalsostech.v3i9.912
Ayun, P. Q. (2015). Fenomena Remaja Menggunakan Media Sosial dalam Membentuk Identitas. KOMUNIKA: Jurnal Dakwah Dan Komunikasi, 3(2), 1–16. https://doi.org/10.24090/komunika.v11i2.1365
Biiznilla Yulian, S. (2019). Perilaku Komunikasi Otaku dalam Interaksi Sosial (Studi Fenomenologi Pada Anggota Komunitas Jepang Soshonbu Bandung). Jurnal Komunikasi, 13(2), 191–200. https://doi.org/10.20885/komunikasi.vol13.iss2.art6
Bugiardo, D. (2015). Berkomunikasi ala Net-Generation (E. B. Supriyanto (ed.)). PT. Gramedia Jakarta.
Dwishintaria, J., & Yunithree Suparman, M. (2024). Perbedaan Konsep Diri Penggemar Anime Antara Cosplayer dan Non-Cosplayer. INNOVATIVE: Journal Of Social Science Research, 4, 4137–4146.
Galbraith, P. W. (2009). Exploring Virtual Potential in Post-Millennial Japan. 1–24.
Habibah. (2018). Aspek Konsep Diri. Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9), 1689–1699.
Hadjarati, H. (2020). Jurnal Ilmu Keolahragaan. Jurnal Ilmu Keolahragaan Undiksha, 8, 127–135.
Handaningtias, U. R., & Agustina, H. (2017). Peristiwa Komunikasi Dalam Pembentukan Konsep Diri Otaku Communication Events in Forming the Self Concept of. Jurnal Kajian Komunikasi, 5(2), 202–209.
Hartanti, J. (2018). Konsep Diri Karakteristik berbagai usia.
Hidayati, S. (2024). Analisis Perilaku Sosial Masyarakat Perkotaan Dalam Pembelian Merchandise Pada Kalangan Remaja Kpop Di Kota Medan. Jurnal Noken: Ilmu-Ilmu Sosial, 10(2), 321–336. https://doi.org/10.33506/jn.v8i2.2444
Irawan, S. (2017). Pengaruh Konsep Diri Terhadap Komunikasi Interpersonal Mahasiswa. Scholaria : Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, 7(1), 39. https://doi.org/10.24246/j.scholaria.2017.v7.i1.p39-48
Mapossa, J. B. (2018). PSIKOLOGI ANIME. Psikologi, 372(2), 2499–2508. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/7556065%0Ahttp://www.pubmedcentral.nih.gov/articlerender.fcgi?artid=PMC394507%0Ahttp://dx.doi.org/10.1016/j.humpath.2017.05.005%0Ahttps://doi.org/10.1007/s00401-018-1825-z%0Ahttp://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/27157931
Nugroho, P. A., & Hendrastomo, G. (2017). Anime Sebagai Budaya Populer... (Prista Ardi Nugroho). Jurnal Pendidikan Sosiologi, 6(3), 1–15.
Nuraini. (2020). Pengaruh Self-Esteem, Perceived Sosial Support, Dan Sense Of Community Terhadap Subjective Well-Being Penggemar Anime. 7(2), 20–29.
Pahleviannur, M. R. (2022). Metodologi Penelitian Kualitatif (F. Sukmawati (ed.)). Pradina Pustaka.
Panggabean. (2023). Analisis Terhadap Konsep Diri Remaja Pecinta Anime. Jurnal Psikologi Pendidikan Dan Pengembangan Sdm, 12(8.5.2017), 13–18.
Pratama. (2022). Konsep Diri Mahasiswa Otaku Di Kota Bandung (Analisis Terhadap Konsep Diri Yang Dimiliki Oleh Mahasiswa Otaku Yang Ada DiKota Bandung). Communication, 13(1), 86. https://doi.org/10.36080/comm.v13i1.1688
Proborini, A. (2015). Hubungan Menonton Animasi Jepang (Anime) Dengan Konsep Diri Remaja Di Komunitas Atsuki Yogyakarta. Jurnal Keperawatan Respati, 2(September), 29–36.
Septiani, N. W. (2017). Konsep Diri Remaja Ditinjau Dari Kegemarannya Terhadap Musik Pop Korea (Korean Pop). Universitas Negeri Surabaya, 2012, 1–14.
Ulfa, U. (2019). Pembentukan Konsep Diri Otaku Anime Di Kota Semarang. Universitas Semarang, 3–4. https://www.minsal.cl/wp-content/uploads/2019/01/2019.01.23_Plan-Nacional-De-Cancer_web.pdf
Yelvita, F. S. (2022). Analisis Terhadap Konsep Diri Remaja Pecinta Anime Di Komunitas Genesis Art Semarang. Majalah Lontar, 34(8.5.2017), 2003–2005.
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2024 Bagas Reffi Hernanda Putra Putra, Mohammad Khasan

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.








